Yang lebih perlu kita khawatirkan adalah........

Rabu, 29 April 2009

Oleh : I. Roselina Z
Pada : April 2009



Dulu, sebelum Rijal menikah, membayangkan memperoleh gaji sebesar yang Rijal peroleh sekarang adalah karunia besar. Sangat cukup bahkan berlebih untuk membeli apapun. Tapi, sekarang ternyata menjadi berbeda. Gaji Rijal sekarang terasa tidak dapat mencukupi secara cukup untuk kehidupan Rijal dan istri. Kebiasaan rutin di akhir bulan, hati menjadi ketir-ketir ketika melihat uang gaji semakin menipis. Meski sudah dilakukan pengalokasian dana untuk masing-masing kebutuhan di dalam rumah, tetap saja ada pembengkakan pengeluaran.

Ketika sebelum tidur, Rijal sering diskusi dengan istri tentang hal tersebut di atas. Apakah kehidupan rumah tangga terlalu boros? Bagian-bagian pengeluaran mana yang perlu sedikit ditekan agar tidak membengkak? Tapi selalu saja tidak mereka temukan pemborosan di sana. Semua pengeluaran masih dalam hitungan wajar. Pengeluaran membengkak adalah pada bea transportasi bulanan pulang balik mudik mereka. Dua bulan berjalan dan hati Rijal masih selalu terhinggapi kekhawatiran setiap berada di akhir bulan. Cukupkah gaji bulan ini ?

Hingga suatu saat Rijal disadarkan oleh istri. Mengapa setiap akhir bulan, muncul kerut kekhawatiran di pening Rijal ? Padahal saat itu, mereka berdua juga bukan dalam posisi benar-benar pailit atau tidak ada uang sama sekali. Masih ada beberapa helai uang di tangan mereka. Mengapa hati Rijal selalu khawatir jika uang yang tersisa tidak cukup ?

Pernah mendengar kisah perbincangan antara Fatimah bin Muhammad SAW dengan suaminya, Ali bin Abu Tholib? Pun hampir sama kondisinya dengan mereka kala itu. Keluarga Ali sedang dalam kondisi ekonomi yang mepet bahkan uang di tangan sudah tidak ada. Kekhawatiran menggelanyuti hati suami dari putri Rosulullah tersebut. Dalam kondisi gundah seperti itu, keluarlah untaian kata indah dari sang istri : ” Kita tidak perlu khawatir dengan habisnya uang di tangan kita, yang perlu kita khawatirkan adalah justru uang yang tersisa di tangan kita, akankah uang tersebut akan mampu kita gunakan secara shohih dan berkah atau malah sebaliknya. Itu yang perlu kita khawatirkan, bagaimana pemanfaatannya.”

Rijalpun akhirnya tersadar, bukankah harta kita akan dimintai pertanggungjawaban dari mana kita dapatkan dan bagaimana kita memanfaatkannya? Mereka berharap semoga mampu menjadi orang yang amanah dengan titipan harta yang Allah SWT titipkan pada mereka. Allah SWT mengingatkan dalam ayat-ayat cinta-Nya : “Jangan kamu berikan harta-harta kamu kepada orang-orang bodoh yaitu apa yang telah Allah jadikan dengan harta itu suatu urusan menjadi tegak” . Rosul pun mewasiatkan : “Sebaik-baik harta adalah harta yang mengalir di tangan orang sholih” . Tidak hanya untuk mereka, semoga harta titipan Allah kepada mereka tersebut mampu pula memberikan kemanfaatan sosial bagi sekitar mereka. Terngiang dalam ingatan akan taujih Rosulullah ketika Beliau dan para sahabat sampai pada fase mihwar daulah, Beliau berpesan kepada para sahabat tercinta kala itu : “Tebarkan salam, beri makan, sambung silaturrahmi, shalat malam”. Traktir teman dan merenda silaturrahmi adalah kemanfaatan sosial dan hal tersebut tidak mampu terwujud dengan maksimal tanpa uang.

Yang Rijal rasakan menjadi kepala keluarga adalah amanah teramat besar bagi Rijal. Di sana, Rijal harus cepat belajar dan terus belajar.

Diposting oleh penulis putri di 11.21 0 komentar